Selasa, 16 Februari 2016

A

Seakan sedang menonton konser, aku terhanyut dalam suasanya. Suara lembut sang penyanyi dan keindahan kata-kata puitis nya berpadu dengan denting piano klasik. Ditambah lagi gerimis yang membuat suasana malam ini menjadi lebih romantis.

Aku menatap matanya yang bersinar itu. Pipi chabinya membuat mata itu terlihat sipit. Rambutnya yang pendek tertata rapih. Senyumnya yang menawan membuatku ingin terus menatapnya. Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tanganku. Aku terkejut. Cukup lama dia menggenggam tanganku, aku pun tidak berniat untuk melepaskannya.

Tanpa aku sadari, wajahnya perlahan mendekat ke arahku. Perasaanku menjadi campur aduk. Semakin lama, wajahnya semakin dekat. Mataku pun terpejam. Sesaat aku sadari tidak ada pergerakan darinya. Aku terkejut menyadari bahwa wajahnya hanya berjarak 5 cm dari wajahku. Aku kembali terpejam.

"Please, be Mine..." Ucapnya.

Aku membuka mataku dan menemukannya sedang tersenyum ke arahku. Aku terpaku, kata-katanya membuatku hampir tidak sadarkan diri. Bibirku pun seakan merekat sangat kuat. Aku terus menatap matanya. Untuk meyakinkan ucapannya. Dari sorot matanya, aku tahu kalau dia membutuhkan jawaban. Aku berusaha meyakinkan hatiku sebelum akhirnya aku tersenyum. Ya, aku mau.

Aku terus tersenyum dan untuk kedua kalinya, wajahnya mendekat ke arahku. Aku tidak tau harus senang ataukah takut. Tapi aku yakin, kali ini pasti untuk itu. Tanganku mengepal kuat. Sesaat aku lihat matanya terpejam. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menutup mataku juga. Dan akhirnya.....

-Rawks-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar