Senin, 29 Februari 2016

Best Moment Ever

Minggu, 28 Februari 2016

Atas dasar nekat, gue memberanikan diri untuk cabut les demi ketemu sama Adhyra (Don't try this at home). 5 Romeo tampil di Gandaria City jam 4, sedangkan gue les di BTA dari jam 12.30 sampe jam 17.45. Jauh sebelum itu gue udah susun rapih rencana biar gue bisa ketemu sama 5 Romeo especially Adhyra. In the Day X, gue terkejut karena gue ternyata harus TO UN di BTA. Emang sial banget deh gue. Selama TO gue gak fokus mikirin gimana caranya pas-pasin waktu biar bisa ketemu sama 5 romeo. Tepat jam, setengah 4 setelah gue selesai TO sesi kedua, gue akhirnya berdiri buat kumpulin LJK disaat yang lain masih mikir.

Gue langsung order gojek dan nungguin kira-kira 15 menit karena si abang segala pake nyasar kan. Setelah si abang sampe, dia nanya sama gue "Buru-buru ya neng?" Karena sebenernya gue gak terlalu denger pertanyaan abangnya, gue jawab aja iya biar cepet. Akhirnya abangnya ngebut dengan kecepatan secepat-cepatnya itu motor. Setengah jam gue berangkat dari BTA, akhirnya gue sampe di Gandaria City. Dengan perasaan gak karuan akhirnya gue jalan cepet biar bisa sempet liat 5 Romeo tampil. Setelah liat lokasi mereka manggung, Gue langsung cari tempat enak biar bisa menikmati 5 Romeo manggung.

Tapi emang gue kurang beruntung, baru aja nemu tempat enak itu 5 Romeo bilang "Thank You" dan mereka turun panggung. Disitu gue lemes tapi sedikit seneng karena setidaknya gue liat mereka. Dan yang bikin gue lemes lagi adalah ternyata gue udah di jemput di BTA. Gue langsung muter orak gimana caranya gue balik ke BTA dengan waktu yang singkat. Gue langsung order gojek lagi tujuan BTA. Untung abangnya dateng cepet. Gue lansung meluncur ke BTA tapi dengan jalan berbeda dari gue berangkat. Seitar 45 menit (karena agak macet) gue udah sampe lagi di BTA. Dengan wajah tidak berdosa gue naik ke mobil dan jalan pulang.

Dan setelah setengah jalan pulang, gue cek line grup adhyrawks. Ternyata pas gue naik ke motor abang gojek, itu 5 romeo semua keluar dan mereka-mereka yang nunggu, foto sama adhyra. Sebagai fans yang kurang berungtung gue cuma bisa istighfar dalam hati dan langsung line adhyra dengan harapan semoga dibales. Tapi ternyata di read doang. Ya sudahlah memang itu takdir. Dan gue gak putus asa, malemnya sebelum tidur gue line adhyra lagi dengan harapan yang sama. Gak sampe satu menit line gue di bales sama dia! Gue gak tau harus apa, yang jelas semenjak gue baca itu balesan dia sampe sebelum ggue tidur gue senyum-senyum sendiri.

-Rawks-



Sabtu, 27 Februari 2016

Si Burung

Origami

Entah kemana perginya
Masih diam, atau hilang?
Kala mata menerka
Dia pergi, atau tinggal?

Anak kecil juga tahu
Hendak bermain
Polos matanya menangkap 
Terdapat sayap yang diam
Lantas mengapa dipertanyakan?

Mulut ingin mengucap
Ketika suara telah berseru di kepala
Bisakah kau tinggal?
Namun kadang
Kepala tak selaras yang di dada
Hingga udara membawa ucapan
Bisakah kau terbang?

Sungguh, 
Membuatmu terbang adalah tujuan-Nya
Saat segalanya adalah milikmu
Mengapa hanya terpaku?
Selalulah ingat
Terlihat sangat jauh memang
Namun dijangkaunya dekat

-Kar-




Minggu, 21 Februari 2016

Sebuah Rasa


Rinduku menggila 
Sepiku melanda
Aku mau marah 
Berteriak kalau bisa 
Menumpahkan segalanya
Semuanya!

Aku ingin ke pantai
Aku ingin mengadu pada laut
Lalu mendengar balasan ombaknya
Membuat jejak kaki di pasirnya 
Seakan benar-benar bercerita 

Aku ingin merasakan sejuk paginya 
Membiarkan angin menerpaku
Seakan mengelus perih hatiku lembut
Lalu membawa semua keluhku jauh
Sampai tak lagi terasa

Berdiam diri di tepi pantai 
Pasir putih jadi tempatku menunggu
Menunggu matahari terbit
Menunggu semangatku bangkit
Gelisahku tak lagi di hati
Ia kini pergi dibawa angin 

~lumos~


Time Past

Time past. People changed.

Kalau begitu, patutkah waktu yang disalahkan?

Kadang menganggap yang tersisa hanyalah penyesalan. Namun waktu tak sejahat itu. Ia juga meninggalkan pengalaman. Pengalaman yang membawa pelajaran.

Pernah ada yang bilang:

Kesalahan+
Kesalahan+
Kesalahan=
Pengalaman.

Waktu.

Sesuatu yang lebih tua dari umur kita. Gak sopan bila menyalahkannya, katanya.

Waktu.

Ketetapan yang terlalu valid untuk diotak-atik.

Waktu.

Sebagai pengukur. Sejauh mana kita telah melangkah, atau pergi.

Waktu.

Juga teman yang selalu ada, gak akan pernah pergi. Namun tak pernah sama, hanya berganti.

Waktu.

Meski lebih tua, dia gak tau apa-apa. Atau lebih tepatnya, gak mau tau apa-apa?
Terlalu egois? Atau terlalu polos?
Berkendara meninggalkan penumpang yang gak bisa menepati jadwal keberangkatan.

Itu waktu.

Menyedihkan saat menemukan dirimu adalah satu-satunya yang membahas tentang waktu.
Bagaimana dengan yang lainnya?
Hanya pikiranku satu yang terlintaskan oleh bayang-bayang mereka.

Ada yang pernah bilang:

Lo belum dewasa kalo belum kehilangan temen.

Kali ini, apa aku sudah dewasa?

Saat berusaha untuk mengembalikannya, ia tak akan pernah sama lagi.

Belajarlah untuk hidup. Untuk kehilangan.

Setidaknya, ada satu yang indah dari sebuah kehilangan;

Pernah memiliki.

-Kar-

Sabtu, 20 Februari 2016

Interaksi Tokoh Utama dan Figuran

Well, tulisan kali ini bukan berasal dari pikiran penuh ide milik sendiri, melainkan tulisan dari my favorite author from wattpad, @andrianchun, yang karyanya membuat pikiran melayang jauh ke negeri Soteria.\^o^/ 
Tulisan ini menyadarkan diri, fellas! (for me). Okeee let’s cekidot...



Ada kaitan erat antara judul dengan kisah seorang gadis yang tak pandai, tak juga kaya, tak pula cantik, ia biasa saja. Tengah dimarahi oleh ibunya yang meresahkan masa depan gadis itu. Dan akhirnya si Gadis menjawab dengan kalimat pamungkasnya, “Jika orang lain mampu menjadi raja, maka aku cukup menjadi rakyat jelata yang bertepuk tangan atas kemenangannya.” 

Itulah makna menghargai peran. Jika semua orang menjadi raja, siapa yang akan memberikan tepuk tangan?
Maka sekarang mungkin kau berfikir, begitu sia-sianya untuk menggapai ranking tertinggi. Begitu sia-sianya meraih popularitas selama ini. 

Tentu tidak. Itu bukan esensi.

Pertanyaannya, siapa gerangan manusia di muka bumi ini yang bisa sepolos dan sekonsisten si Gadis dalam cerita? Probabilitas yang cukup kecil untuk menemukan orang seperti itu. Bahkan mungkin tokoh seklise itu hanya dapat kau dapatkan di dunia imajinasi. 

Ya, sangat jelas. Sebiasa-biasanya manusia, ia ingin merasakan menjadi tokoh utama, paling tidak di dalam kisahnya sendiri, sekali seumur hidup. 
Lalu bagaimana menyikapinya?

Tidak susah. 
Kalau kau ignin menjadi tokoh utama, itu wajar, itu normal. Aku juga. 
Maka lakukanlah! Dan akan kulakukan. 
Kau adalah si Aku dalam POV-1. Atau si Anu yang paling sering disebut dalam POV-3. 

Tapi jangan lupakan satu hal ini!

Kau adalah tokkoh figuran di cerita lain. Aku pun juga. Maka disisi lain, kerjakanlah peran kita sebagai tokoh pendamping. Konkretnya adalah, jika kau penulis, maka jadilah pembaca di tulisan orang lain. Dukung mereka. Jangan malah menutup diri dan berharap kaulah satu-satunya tokoh utama dalam cerita epos kehidupan ini. 

Kisah kita adalah bentuk interaksi tokoh utama dan figuran. Jadi berperilakulah sebagaimana irisan itu terbentuk. Natural. 

 ~lumos~ (@andrianchun)

Sekolah untuk Apa?

"Jangan, jangan sekolah hanya sekadar datang. Pikirkan ke depan. Tujuan hidup kita adalah masa depan."

Sebenernya kita sekolah itu untuk apa sih?

Waktu SD, mungkin yang kita tau adalah sekolah ya suatu kegiatan yang diharuskan sama orang tua. Orang tua nyuruh kita masuk sekolah, yaudah, masuk main masuk aja tanpa tau sebenernya sekolah itu apa. Di sekolah kita dapet banyak temen baru dan mengenal lingkungan baru, disitulah kita mulai membangun pribadi kita tanpa kita sadari.

Dulu, gue gatau makna sekolah itu apa. Gue bahkan gak inget waktu pertama kali gue masuk sekolah itu kayak gimana. Dikasih tugas rumah, dengan gak pedulinya, gak gue kerjain. Alhasil di sekolah, pipi gue dicubit sama wali kelas, pake kuku lagi! Mungkin itu yang menyebabkan pipi gue tembem kayak sekarang(eeh). Lagi, gue gak inget gue pernah belajar sungguh-sungguh waktu itu. Gue ga inget otak gue pernah dengan suka hatinya nerima pelajaran yang dikasih sama guru. Sumpah, gue gak peduli sama yang namanya pelajaran. Yang gue tau adalah:
 Pertama, berangkat ke sekolah
 Kedua, duduk di bangku yang setiap hari gue datengin (kecuali minggu). Eh, dulu gue pernah nangis tau gara-gara rebutan bangku. Jadi ceritanya kita duduk bertiga satu meja, gue maunya di tengah, tapi temen gue nempatin tempat gue itu, padahal gue yang duluan! alhasil, kita nangis, dan gue lupa berakhirnya siapa yang menangin tempat terkutuk itu. Oke, lupakan, next!
 Ketiga, naro tas
 Keempat, keluar kelas lalu main
Pas jam istirahat, keluar kelas, ke kantin terus jajan deh. Biasanya beli nasi kuning yang harganya seribu lima ratus rupiah, sepertiga dari uang jajan gue setiap harinya. Atau enggak beli mie sakura, harganya ada yang seribu ada juga yang seribu lima ratus. Dan saat itu gue punya jajanan favorit, dia terbuat dari telor(yang sampe sekarang gue gatau namanya apa). Gue bisa beli gituan sampe tiga ribu, itu kalo dikasih uang jajan lebih hahai.
Semakin hari, beserta tahun-tahun yang gue lewati, membuat gue semakin dewasa-saat itu-. Jajanan favorit gue tergantikan dengan jajanan baru(barang baru sih lebih tepatnya), yaitu..... kertas file! yey!
Setiap hari gue dateng pagi-pagi demi memburu kertas-kertas itu di gerobak jualannya bang Amat yang nantinya bakal gue amankan di file gue tersayang. Dan kerjaan gue setiap pulang sekolah adalah main ke rumah temen sambil ngebawa file gue itu, terus bilang "tukeran file yuk!" padahal kan yang ditukerin kan kertasnya ya, tapi pada zaman dahulu kala itu kita bilangnya filenya yang dituker. Eh sampe sekarang itu semua masih ada loh, dan ternyata gue berhasil punya file sebanyak empat! wuahaha (inget, itu FILE ya, bukan kertasnya, yekali gue bangga punya kertas file empat doang)
Selain itu, main deplak gunung, congklak, kartu uno, atau sekedar tidur-tiduran dirumah temen sampe tidur beneran.Ohiya, mainan favorit gue yang bisa gue mainin disekolah adalah karet! yey! Sebernya bukan cuma karet, tapi juga asen dann bekel (inget ya, bacanya 'be'nya itu be nya bebek, jadi bekel, bukan bekel(bekel makanan), oke itu tulisannya identik)
Pelajaran? Gak usah ditanya, gue ga inget sama sekali gue belajar apa waktu itu.

Sampai akhirnya, suatu kejadian membuat gue sadar.
Gue udah duduk di awal tahun keenam sekolah dasar. Udah kelas enam, coy! bentar lagi lulus! Seperti biasa, bapak walas gue yang baru itu di awal kita masuk semester satu udah nyiapin yang namanya belajar tambahan biar kita gak kaget nantinya di semester dua. Les pertama, para lelaki dulu yang kebagian jatah duluan. Dan namanya juga baru mulai disuruh rajin ya, mereka ada beberapa yang gak dateng tuh. Karena itulah gue terdorong untuk gak dateng juga pas bagiannya para wanita yang les (karna gue liat tuh anak-anak cowok yang bolos gak diapa-apain sama walas gue). Finally, gue, beserta teman-teman yang terhasut sama hasutan gue, gak dateng les. Dan lo tau apa? dirumah gue malah main Pet society! Bagi yang gatau apa itu pet society, masa SD lo gak bahagia. Ternyata eh ternyata, hal yang sama gak berulang dua kali. Kali ini, yang gak dateng dapet suatu hukuman. Gue, dan teman-teman seperjuangan, disuruh maju ke depan kelas. Disitulah guru gue 'nampar' gue sampe sadar. Dengan cara apa? Beliau bilang gini "Kakak kamu berhasil masuk ke SMP *** (SMP yang lumayan bagus), nanti kamu mau masuk mana? Gak mau sekolah lagi?" kebetulan kakak gue beda dua tahun, sama-sama SD disitu. Anjir, gue malu saat itu, anak sekelas nontonin.
YAK! Saat itulah gue mulai membuka mata. Dengan bimbingan bapak walas gue yang sangat gue sayangi dan cintai itu, gue mulai bangkit. Gue mendadak jadi anak rajin, predikat gue di kelas menjadi anak yang diandelin dimana-mana. Gue jadi seneng sama yang namanya pelajaran. Selain belajar tambahan umum, gue ikut les privatnya walas gue juga bersama teman-teman yang ternyata gue kangenin sekarang. Saat itu adalah masa-masa yang paling membahagiakan selama gue sekolah. Gue ngerasa dapet segalanya. Kebersamaan juga ilmu. Gue inget waktu itu kita mau les privat di rumah walas gue, hujan, ternyata disana kebanjiran. Akhirnya kita jadi bantuin beres-beres di sana, seru. Dan kita, kalo pulang sekolah sebelum dateng ke les tambahan kelas itu, suka makan bakso dideket sekolah yang saat itu adalah bakso favorit gue dengan kuah bening, sumpah itu enak. Dan karena itu, kita jadi suka terlambat ke tempat les, tapi gak dimarahin wuahaha.
Yang paling nempel dihati adalah pas gue pulang membawa sebungkus bakso yang dibeliin sama pak walas sebagai hadiah karna gue bisa jawab pertanyaan yang dia kasih waktu itu; "Kenapa dinding ruang bioskop dilapisi busa khusus?" itu adalah pertanyaan yang mudah untuk anak-anak sekarang, dan sebenarnya itu bukan pertanyaan yang susah untuk anak-anak jaman dulu, tapi tetep aja gue seneng daaann... sedikit bangga(?) wkwk
Ya, itulah masa-masa bahagia gue. Kemudian itu semua berhasil mengantar diriku masuk ke SMP yang lebih bagus dari kakak gue! Yey! Alhamdulillah...

Dimulailah masa-masa SMP. Ohiya, gue pengen sedikit nambahin. Tiga minggu setelah gue resmi masuk SMP, dateng sebuah kabar yang kemudian bikin gue nangis kejer. Pak walas gue, satu-satunya guru yang gue sayang di SD dan berjasa banget buat gue, meninggal dunia. Gak nyangka banget waktu itu. Ya, dan saat itu gue menganggap beliau adalah utusan Tuhan yang dikirim buat 'memperbaiki' gue. Haha lebaynya diriku. TERIMAKASIH PAAAAKK!

Next. Semasa SMP, gue gak begitu gemilang. Gue termasuk anak yang standart. Dan gue gak ngerti kenapa, tapi gue balik kayak dulu lagi. Sekolah asal dateng aja, gak berusaha buat dapet nilai bagus, gak berusaha semaksimal mungkin. Hal ini bertahan sampe akhir kelas dua. Dan kelas tiga adalah awal yang baru. Gue sekelas sama temen-temen yang ngedukung banget kemajuan gue, mereka adalah faktor utama gue bisa bangkit lagi. Dan, ya, finally, gue lulus deh. Lulus dengan nilai yang biasa aja. Hm, masa SMP gue emang yang paling anteng. Nothing special happened. Except, maybe, Paskibra. Ya, gue ikut ekskul paskibra dan gue sangat sangat bersyukur karna gak salah milih ekskul. Kenangan di sana lah yang sekarang gue kangenin. Haduhhh, yang namanya nostalgia tuh bikin baper ya.

Well, next to putih abu-abu!

Oke, di masa ini gue gak mau bahas yang lain selain tujuan gue nulis ini semua. TO THE POINT.
Sekarang gue kelas 12, kawan-kawan. H-46 gue UN! Disaat-saat seperti ini gue agak menyesali kelalaian gue selama semester-semester sebelumnya. Kelas 10, 11 gue masih buta sama yang namanya SNMPTN atau PTN. Gue sangat sangat menyesal disitu. Karena kebutaan itu, nilai gue acak-acakan, yang dimana menyusahkan gue sekarang. Naik-turun kayak air bergelombang. 

Dulu, gue gak kepikiran samasekali tujuan sebenarnya gue ke sekolah untuk apa. Sampe beberapa waktu lalu, gue baru mulai sadar. Ke sekolah itu bukan cuma untuk belajar dan ngejar nilai bagus. Bukan juga untuk sekedar menuhin tugas-tugas yang dikasih sama guru. Apalagi cuma untuk sekedar main-main.

Sekolah adalah jembatan kita untuk menuju masa depan yang kita inginkan. Kita kalau mau jadi orang, harus bener-bener belajar tentang bagaimana bisa kita menjadi orang yang kita pengenin. Di sekolah lah kita ngebentuk itu semua. Nilai sosial dan segala macamnya itu merupakan latihan untuk hidup kita kedepannya nanti. Ternyata, semuanya itu berarti. Sangat berarti. Dan beruntunglah kalian yang udah sadar dari lama. 

Lalu, bagaimana dengan yang baru sadar kayak gue?

Mulailah lagi. Yang udah terjadi, gak ada gunanya disesalin. Yang perlu gue lakuin sekarang adalah cari cara untuk mengharumkan bak sampah (gak enak banget ya perumpamaannya, bodo ah.) Susah kalo gak ada kemauan untuk ngebersihinnya, jangankan ngebersihin, ngedeketinnya aja jijik. Tapi kalo udah punya niat, bakal gampang ngebersihinnya, secara bertahap yang pasti. Tahap itulah proses.

Oke, sudahlah cukup sampai disini saja cerita dari saya. Gak tau ini bermanfaat bagi pembacanya atau enggak. Lain kali, gue mungkin bakal cerita-cerita tentang riwayat hidup gue yang lainnya, Hahai.

Terimakasih telah membaca tulisan nggak jelas ini. 

Dan dengan BISMILLAH, gue mau mulai apa yang ingin gue capai, menuju masa depan! Yey! 
Hal-hal terkutuk gue selama di sekolah sebelumnya, gak boleh terulang lagi di masa kuliah nanti. Mata gue gak boleh tertutup, sedetikpun.

-Kar-

Jumat, 19 Februari 2016

Sebuah Puisi (?)

Biarkan saya menuangkan segelintir kata yang melipir hati untuk sekadar memenuhi kepenuhan batin yang sedikit menyiksa jiwa. wkwkwk... :D just enjoy it (if you can) 



Amarah menguasai hati
Pikiran tak lagi terkoordinir
Nafsu geram memburu
Tak sabar memuntahkan semuanya
Agar lega rasa raga

Kebutuhan yang menggunung
Dan kekurangan yang mendukung 
Membuat siapapun terkurung
Termenung dalam keadaan 
Untuk sesaat
Atau bakan lebih lama 

Untuk insan yang tak kuat
Mungkin matilah pilihan tepat 
Mengakhiri fatamorgana ganas dunia 
Yang hanya kesemuan belaka. 

Hati bergetar
Mengingatkan pikiran
Itu bukan akhir!
Kiamat belum datang menyapa!
Sang waktu masih berkelana
Sang waktu masih suka bermain dengan takdir 
Menjebak manusia lemah ke jurang kematian
Manusia lemah... 
Pikiran sadar dari kekalutannya
Menganalisa semua kemungkinan
Menganalisa semua kejadian

Hidupku tak berhenti 
Sampai kuperintahkan begitu
Insan muda lahir dengan sejuta pilihan
Pilihan...pilihan...pilihan...
It’s always been it 

Aku memilih
Insan muda ini menentukan nasibnya
Mengubahnya sesenang hati 
I will fight! 
Menangguhkan mampu yang tertanam di hati
Tertancap di pikiran 
Teresap di jiwa 
Terasa di raga 

Implus tak lagi berjalan
Ia kini melompat di otak  
Yang berbuah pola pikir ajaib
Perlahan termotivasi sendiri 
Aku bukan manusia lemah
Aku insan muda 
Generasi penerus bangsa
Siap mental sekeras baja
Keadaan ini tak mampu mengalahkanku! 
2/3/2016 1:11 AM

 ~lumos~

Rabu, 17 Februari 2016

Y

Pernahkah kalian merasa kalau kita kadang berlebihan menyukai / mencintai seseorang? Sampai kadang kita berharap kalau dia hanya untuk kita? Ya walaupun itu hanya untuk memuaskan angan kita tentang dia. 

Tapi tanpa kita sadari, perasaan itu telah membuat kita terjebak di satu sisi yang sangat jauh dari kenyataan. Membuat kita terus berandai-andai yang melebihi batas. 

Itu normal. Karena pasti setiap manusia mempunyai sisi egois dalam dirinya. Merasa kalau apa yang kita cintai hanya untuk kita. Tapi, kembali lagi pada diri kita. Bagaimana menahan sisi egois itu. Karena tidak selamanya apa yang kita bayangkan akan tercapai. 

Bersyukur kalau itu berhasil, tapi kalau tidak? Bayangkan apa yang akan terjadi kalau gagal. Merasa sangat frustrasi dan bahkan bisa terucap "Tuhan memang tidak adil" 

H

Setiap hari aku jalani dengan ikhlas. Berharap apa yang aku lakukan adalah kebaikan dan menguntungkan diriku juga mungkin untuk orang lain. Aku juga sedang berusaha untuk memperbaiki apa yang salah. Aku terus mencoba.

Aku sadar, beberapa hal kecil yang aku lakukan menghambat apa yang aku inginkan untuk tercapai. Tapi mau bagaimana, sebagai manusia biasa aku hanya bisa berusaha, berdoa dan yang terakhir ikhtiar.

Kadang aku berpikir, kenapa aku tidak seberuntung "mereka"? Atau mungkin memang takdirku seperti ini. Tapi aku yakin, suatu saat aku pasti akan sama beruntungnya dengan mereka. Mungkin dengan cara yang berbeda.


-Rawks-

D

Aku baru saja mengenalnya, itu pun tidak sengaja. Saat aku mencari seseorang yang bisa aku jadikan penyemangat. Aku tidak tahu dia siapa sampai akhirnya aku mencari informasi tentangnya.

Menarik. Itulah kata pertama yang aku ucapkan saat melihat wajahnya. Tidak terlalu tampan, tapi manis. Tidak terlalu eksis, tapi cukup banyak penggemarnya. Suaranya merdu, pribadinya pun baik.

Tapi dia bukan siapa-siapa untukku. Dia hanya seorang penyanyi yang sedang membangun kariernya dan mengejar cita-citanya. Sedangkan aku hanya orang biasa yang berharap bertemu dengan idolanya. Tidak lebih.

Tapi, entah kenapa dia membuatku terpacu untuk menggapai semua impian. Mungkin karena sisi positif yang ia miliki. Tapi bagaimana bisa, aku fansnya yang bahkan belum pernah bertemu dengan idolanya menjadikan dia sosok "panutan" untuk berprestasi? Atau mungkin itu semua tentang keyakinan? Atau memang hati yang berbicara?

-Rawks-

Selasa, 16 Februari 2016

People Come and Go

Jangan lupain kita, temen lama kalian :))

Dulu kita bilang dari
"bareng2 terus yaa"

Lalu
"yang penting masih bisa atur jadwal kumpul lah"

Jadi
"yang penting masih bisa ketemu
sesekali lah"

Sampe
"mereka apa kabar yaa"
"udah lama nggak ketemu"
"kangen jg pengen ketemu"
...
People come and go , selagi masih bisa kumpul usahain kumpul
...
Nikmatin kebersamaan while it lasts
...
Dulu kalau mau kumpul tinggal kumpul, lama - lama diajakin via grup chat yang respon makin dikit
makin dikit
makin dikit
...
Sampe masing-masing udah sibuk sendiri
Kalau udah kayak gini, ya nggak bisa nyalahin siapa-siapa.
Emang masanya udah habis, dan cuma bisa bilang
" sukses lah bro, see you on top :)"
...
Ada satu titik dimana kita seolah ngeliat kebelakang, terus sadar kalau temen-temen yang dulu barengan satu per satu pada hilang.
Is it just me ? Or,
...
Coba liat foto yang lagi bareng-bareng sm sohib lo dulu.
Liat lagi trip yang udah kita lewatin bareng-bareng.
...
See the happy and silly face in there, are you missing that?
...
People come and go , memories from time well spent with them stay
...
Tugas ngerusak persahabatan. sejak mulai, prosesnya emg bikin sibuk, sampe akhirnya kelar dan bikin renggang
...
Dari yang mau nyapa tinggal nyapa
Sampe kalau mau chat/nelp mesti nanya dulu sibuk apa enggak
...
Dari yg asal main tag foto-foto aib sampe yg mau ikut komen aja ragu, grgr banyak komen dari temen-temen barunya
...
Dari yang kalau mau chat nggak perlu ada topik aja bisa seru, sampe yang mau mulai chat sm temen lama aja harus nunggu ada perlu/topiknya
...
Dari yg udah nggak tau malu minjem duit
sampe yg segen sekedar mau nanya kabar
...
Akhirnya? Cuma berani scrolling news feed temen-temen lama.
Im happy that youre all ok :))
...
Jangan remehin secuil rasa kangen
Sayangnya, kangen itu datengnya ga barengan ; pas kita kangen, mereka yg dikangenin ga lagi kangen , dan gt sebaliknya
...
Kalau ada yg ngajak kumpul, usahain kumpul walaupun lagi ga kangen-kangen amat atau malah emg lagi males.
Who knows it's their last? Or yours..
...
Jangan nunggu susah-seneng-bareng
Sampe jadi susah-ngumpul-bareng
Jangan sampe susah banget diajakin kumpul sm temen-temen lo, sampe lo nggak diajak ngumpul lagi
...
Masa masa kita bener bener bikin effort buat ketemuan
bukan sekedar kalau waktunya luang doang
...
People come and go, selagi masih bisa ngumpul usahain ngumpul.
...
Kalian itu temen-temen terbangke,terkampret, tergila dan terannoying ; can we do it again?
...
"nanti juga bisalah kumpul lagi kayak dulu"
Is the evilest lie we told ourself.
...
The first thing you'll realize, when you wake up in the next day is ;
It's all gone.

All the good things, will it ends?
Sure, it will :))

-FRNS

A

Seakan sedang menonton konser, aku terhanyut dalam suasanya. Suara lembut sang penyanyi dan keindahan kata-kata puitis nya berpadu dengan denting piano klasik. Ditambah lagi gerimis yang membuat suasana malam ini menjadi lebih romantis.

Aku menatap matanya yang bersinar itu. Pipi chabinya membuat mata itu terlihat sipit. Rambutnya yang pendek tertata rapih. Senyumnya yang menawan membuatku ingin terus menatapnya. Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tanganku. Aku terkejut. Cukup lama dia menggenggam tanganku, aku pun tidak berniat untuk melepaskannya.

Tanpa aku sadari, wajahnya perlahan mendekat ke arahku. Perasaanku menjadi campur aduk. Semakin lama, wajahnya semakin dekat. Mataku pun terpejam. Sesaat aku sadari tidak ada pergerakan darinya. Aku terkejut menyadari bahwa wajahnya hanya berjarak 5 cm dari wajahku. Aku kembali terpejam.

"Please, be Mine..." Ucapnya.

Aku membuka mataku dan menemukannya sedang tersenyum ke arahku. Aku terpaku, kata-katanya membuatku hampir tidak sadarkan diri. Bibirku pun seakan merekat sangat kuat. Aku terus menatap matanya. Untuk meyakinkan ucapannya. Dari sorot matanya, aku tahu kalau dia membutuhkan jawaban. Aku berusaha meyakinkan hatiku sebelum akhirnya aku tersenyum. Ya, aku mau.

Aku terus tersenyum dan untuk kedua kalinya, wajahnya mendekat ke arahku. Aku tidak tau harus senang ataukah takut. Tapi aku yakin, kali ini pasti untuk itu. Tanganku mengepal kuat. Sesaat aku lihat matanya terpejam. Aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menutup mataku juga. Dan akhirnya.....

-Rawks-

Minggu, 14 Februari 2016

Ini apa?


Aku Ada

Tolong
Aku butuh tangan
Kau melihatku, jatuh
Genangan air biru menantiku menapak
Lalu kau diam saja
Apa aku salah?

Hendaklah tenang, kawan
Aku teman sejatimu
Ketika kau memohon
Dadaku dihantam kenangan
Maka janganlah

Kehadiranmu
Aku mencari kehadiranmu
Dimana kau, kawan?
Tak ada diriku dalam memorimu, aku rasa

Tak usah risau
Aku teman sejatimu
Kini kelopakmu berada di bawah
Maka angkatlah
Hingga matamu menangkap
Ragaku berada disini

Aku tak punya sayap
Sementara di punggungmu ada dua
Sediakah kau menumbuhkannya satu padaku?
Atau menggenggam dan membawaku

Percayalah, kawan
Aku teman sejatimu
Siapkan kedua kakimu
Ketika mereka menjauhi bumi
Karena telah ada dua hinggap di punggungmu
Atau aku menggenggam dan membawamu


-Kar-