Saya akan membagi sedikit ilmu yang saya dapet dari buku menajubkan karya Ippho Santosa, dan ini mengenai otak kanan, selamat datang di minoritas gaess!! Dan plis, baca ini sampe habis dengan nyaman, oke? Jangan setengah-setengah. Kerjaan yang dikerjainnya setengah-setengah aja ga bagus, apalagi baca. Baca yang setengah-setengah itu cuma dapet setengah. Gaenak kalo setengah doang. Jadi apa negara kita punya rakyat yang malas baca tulisan panjang, padahal itu berguna banget, siapa tahu tulisan itu memberi inspirasi dan manfaat yang luarbiasa. Kan, siapa tahu! Apapun karya anak bangsa kan musti di apresiasi, tapi berabe juga kalo terlalu bebas berapresiasi, apalagi sama karya tulis yang sangat subjektif dan tidak semestinya dijadikan sebuah tulisan dan parahnya, dengan bebasnya dipubikasikan! (pengaruh wattpad bakal diapus gegara oknum mesum -_- Maap). Tapi saya percaya kalian adalah great reader :-) semoga tulisan ini menjadi amal jariyah buat yang menebarkannya dan menjalaninya. Aamiiin.
Ketika Pendidikan Dipertanyakan...
Tragisnya, seperti yang Anda maklum, pendidikan konvensional-mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi-selalu dan terlalu banyak memanjakan otak kiri. Hanya 10 persen mata pelajaran yang mengasah otak kanan. Terlebih-lebih pendidikan paska sarjana. Pokoknya makin tinggi, makin kiri. Cuma pendidikan kanak-kanak yang masih manaruh perhatian pada otak kanan. ( Istilah saya, perguruan tinggi itu adalah perguruan kiri dan taman kanak-kanan itu adalah taman kanan-kanan. Hehehe! )
Digojlok pendidikan kiri selama hampir 20 tahun,, tak dapat dielakkan, mayoritas orang menjadi Golongan Kiri. Cuma segelintir orang yang menjadi Golongan Kanan. Jadilah si kanan ini minoritas. Repotnya, pola pikir si minoritas ini jelas-jelas tidak sejalan dengan pola pikir si mayoritas. Si minoritas ‘kan cenderung kreatif, imajinatif, intuitif (feeling-based), implusif (spontan), dan lateral (acak). Ujung-ujugnya si minoritas sering dicap sinting oleh si mayoritas. Pst, dimana-mana orang sukses itu memang minoritas dan sering dicap sinting. Right?
Bahkan Albert Eintsein pun bersikukuh, “Imajinasi itu lebih utama daripada ilmu pengetahuan.” Imajinasi itu kanan, ilmu pengetahuan itu kiri. Saya perjelas, kanan itu lebih utama daripada kiri! Right?
Ketika Konsep Keseimbangan Direvisi
Konsep keseimbangan memang memiliki daya pukau tersendiri. Walhasil, konsep keseimbangan otak kiri dan kanan berhasil menghipnotis kita. Padahal, bukan keseimbangan mentah-mentah seperti itu yang disarankan. Karena, kalau kita telaah lebih lanjut:
>Dimensi IQ itu banyak kaitannya dengan otak kiri. Lihat saja sifat-sifatnya satu persatu: kognitif, realistis, matematis, eksplisit, dan self-centric.
>Dimensi EQ itu banyak kaitannya dengan otak kanan. Dimana sifat-sifatnya: afektif, empati, luwes, implisit, dan other-centric.
>Riset di seantero jagat pun dengan sahihnya menyimpulkan, kesuksesan itu memerlukan 80 persen EQ. Sedangkan IQ sekitar 20 persen.
> Jadi, dominan EQ. Bukan imbang IQ-EQ. Bukan pula imbang kiri-kanan.
>Dengan begitu, lagi-lagi disarankan agar Anda untuk dominan kanan dengan kata lain, bukan imbang otak sadar dan otak bawah sadar. Melainkan dominan otak bawah sadar.
Sebelum Anda membantah saya, coba deh Anda amati dulu para direktur dan owner perusahaan besar:
>Mereka itu dominan kanan. Lebih visioner, lebih kreatif, lebih intuitif, lebih implusif (spontan), berpikir holistik (keseluruhan), empati ke emua pihak, dan memahami yang tersirat.>
>Mereka kirinya sekadar saja. Tidak terlalu memahami detil, tidak terlalu menguasai kalkulasi, dan tidak terlalu fokus.>
>Terus, siapa yang musti kanan-kiri? Para manajer madya.
>Terus, siapa yang musti dominan kiri? Para bawahan
>Jadi, ada yang dominan kanan, ada yang ombang, dan ada yang dominan kiri. Bergantung pada posisi dan cita-cita masing-masing.
>Akhirnya, semua saling melengkapi dan saling imbangkan. Inilah konsep keseimbangan yang disarnankan. Tolong jangan dibantah!
Oke, yang diatas itu cukup open mind. So, yang ini mungkin akan membuat kalian semua open heart dan lebih open mind lagi.
Buat yang impian atau beberapa angannya masih belum tercapai, mungkin rangkaian pikiran dari Ippho ini bakal nyadarin kalian kenapa impian itu tak kunjung terlaksana.
Ini dia cara cepat mewujudkan impian sang pemenang. Jeng... Jeng... Jeng...
Doa Vs LOA
Saya yakin kebanyakan dari pembaca sudah pernah mendengar tentang hukum Tarik-Menarik (law of Attraction). Supaya mudah, sebut saja LOA. Intinya kurang lebih begini: apa yang Anda pikirkan, itulah yang semesta berikan. Boleh juga dibilang, pikiran Anda-lah yang menarik segala sesuatu itu terjadi. Thoughts beecome things. Tentu saja, itu terjadi dengan izin Yang Maha Kuasa. Bukankah Dia itu persis seperti persangkaan hamba-Nya? Nah, LOA itu punya hukum-hukum tersendiri. Dan berikut ini saya hanya akan membeberkan sederet hukum LOA yang tersembunyi selama ini.
>Tahukah Anda, doa itu terkait erat dengan LOA? Yap, keduanya saling menguatkan satu sama lain.
>Tahukah Anda, pada hakikatnya doa, impian, dan harapan itu kurang-lebih sama saja? Ianya adalah sesuatu yang ingin Anda wujudkan.
>Tahukah Anda, terdapat satu buhul (ikatan) yang menghubungkan Anda dengan orang-orang disekitar Anda? Sehingga mau tidak mau, buhul ini memengaruhi terwujud atau tidaknya impian Anda?
>Tahukah Anda, begitu impian orang-orang disekitar Anda selaras dengan impian Anda, berarti impian Anda menjadi lebih ‘bersayap’. Dimana impian Anda akan lebih cepat terwujud. Sangat cepat!
>Tahukah Anda, pikiran yang kosong itu gampang kesambet? Jangan salah paham, ini sama sekali bukan tentang kerasukan. Maksud saya, pikiran yang kosong mudah dikalahkan dengan pikiran yang berisi. Pikiran yang ragu-ragu akan kalah dengan pikiran yang yakin. Pikiran yang lemah mudah dikalahkan dengan pikiran yang kuat.
>Sebagian kita kadang menggerutu, mengapa Yang Maha Kuasa tidak mau mengabulkan doa dan mewujudkan impian kita. Padahal bukan begitu. Justru kitalah yang tidak mau mematuhi hukum-hukum LOA. Ingatlah, doa itu terkait erat dengan LOA. Terbukti, orang atheis sekalipun dapat menwujudkan impiannya, semata-mata karena ia mematuhi hukum-hukum LOA.
>Dengarkan saya, gabungkan antara adab doa dan hukum LOA membuat impian Anda terwujud dalam waktu yang jauh lebih cepat! Jadi, gabungkan keduanya, bukan salah satunya. Menurut paham otak kiri, tentu ini sulit untuk diterima, sampailah ia benar-benar mencoba dan membuktikannya..
>Stephen Covey pernah berwasiat, “sesuatu yang tidak bisa Anda kendalikan, maka lupakan saja.” menurut saya, ini kurang tepat. Dengarkan saya, yang sesungguhnya, segala sesuatu masih bisa Anda ‘kendalikan’. Dengan apa? Dengan doa, zikir, dan sejenisnya.
PS: bagian diambil secara acak dan sesuai kesenagan penulis. Hehehe :-D
~lumos~