Selasa, 19 April 2016

Jakarta-Jogja

06.30, Stasiun Senen. Aku sangat merindukan suasana Stasiun Senen saat aku kembali dari Jogja. Tapi pagi ini, aku akan berangkat ke Jogja untuk menyelesaikan masalah kuliahku di sana. Keretaku di jadwalkan berangkat pukul 07.00 dan aku berharap keberangkatannya tidak ditunda.
Aku segera menaiki gerbong dan mencari tempat duduk yang sudah tertera di tiket keretaku. Saat aku menemukan nomor kursi, ternyata sudah ada pemuda yang duduk disana. Mungkin, dia berumur 25 atau 30 tahun. Pemuda itu sepertinya sedang asik melihat ke arah jendela yaitu ke arah Stasiun. Entah apa yang membuatnya tertarik.
Ketika aku sedang bersusah payah menyimpan barang bawaanku di kabin, dia pun menoleh ke arahku “Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu. Aku terdiam sesaat ketika pemuda itu menatapku lalu tersenyum. Aku seakan pernah melihat tatapan mata seperti ini sebelumnya. Sudah tidak asing lagi tatapannya bagiku. Tapi kemudian aku tersadar saat pemuda itu menepuk tangannya tepat di depan wajahku. “Eh, maaf mas. Terima kasih, tapi saya bisa sendiri.” Jawabku. Pemuda itu lalu tersenyum dan kembali menikmati pemandangan di luar jendela.
Aku pun duduk di samping pemuda itu. Sebenarnya aku ingin duduk di dekat jendela. Karena nanti akan banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju Jogja. “Maaf, boleh saya duduk di dekat jendela?” Aku memberanikan diri untuk menukar posisi tempat duduk. Pemuda itu hanya mengangguk lalu dia berdiri dan mempersilahkan aku duduk di dekat jendela.
“Senang duduk di dekat jendela ya?” tanya pemuda itu. “Ya, saya sangat suka duduk di sini. Soalnya nanti banyak pemandangan indah. Siapa tau bisa jadi objek foto saya.” Jawabku. Aku memang suka pemandangan, baik laut ataupun gunung. Jika ada kesempatan dan aku sedang membawa kamera, aku pasti akan mengambil foto lalu menyimpannya sebagai koleksi atau sebagai bukti kalau aku pernah kesana.
“Sepertinya, mba sudah sering ke Jogja ya? Atau mungkin mba tinggal di Jogja dan lagi liburan di Jakarta?” Tanya pemuda itu. Mba? Sepertinya wajahku tidak setua itu dan sepertinya belum cocok untuk dipanggil mba. “Panggil aja Anita. Ya, saya sering bolak balik Jakarta-Jogja. Saya kuliah di Jogja dan tinggal di Jakarta, bukan sebaliknya.” Pemuda itu sepertinya tertarik dengan ceritaku. Dia sangat memperhatikan setiap kata-kata yang aku ucapkan. Entah apa yang membuat ucapanku menarik baginya. Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman denganku. “Robi. Oh berarti saya salah kira.” Robi? Bagus juga nama pemuda itu.
Di luar sudah terdengar pluit tanda kereta diizinkan untuk berangkat meninggalkan Stasiun Senen. Tepat pukul 07.00 pagi kereta perlahan meninggalkan Stasiun Senen. Kecepatan kerta pun bertambah kencang. Obrolanku dengan Robi pun berlanjut. Mulai dari perkuliahan, fotografi, traveling, dan lama kelamaan pembicaraan kami mengarah ke hal pribadi. Dan aku baru tau kalau dia ternyata hanya 2 tahun lebih tua dariku, yaitu 24 tahun.
“Kalo kamu, mau ke jogja ada urusan ya?” Lidahku gatal mengucapkan kata-kata itu. Tidak biasa aku berbicara dengan lawan jenis menggunakan ‘aku’atau ‘kamu’. Tapi kalau dilihat dari wajahnya, dia sepertinya orang yang tenang dan tidak seperti laki-laki kebanyakan. “Ya, saya memang sedang ada urusan mendesak.” Seketika wajahnya terlihat sedikit heran, “Kok kamu bisa tau?” Sudah kuduga kalau dia akan bertanya.
Untuk orang yang baru mengenalku, mungkin mereka akan heran kenapa bisa aku mengetahui apa yang mereka pikirkan. Walaupun hanya melihat wajahnya. Tapi, kalau orang yang sudah dekat, mereka akan paham kalau aku memang bisa merasakan sesuatu yang mungkin sulit di jelaskan oleh kata-kata. Bukan karena aku mahasiswa psikologi atau seorang cenayang. Tapi, itu sudah turun temurun ada di dalam darahku. Mungkin, bisa dikatakan sebagai indra keenam.
“Keliatan dari wajahnya.” Jawabku sambil tersenyum. Seolah tak ambil pusing, dia memalingkan wajahnya. Aku pun kembali melihat keluar jendela. Setelah cukup lama aku memperhatikan pemandangan, aku pun mengambil headset dari tas kecil yang aku pangku. Kepalaku mengangguk kecil mendengarkan musik yang mengalun indah. Tiba-tiba mataku memperhatikan wajah laki-laki yang ada di sebelahku ini. Dilihat dari samping, wajahnya tampan juga. Pembawaannya yang tenang, dan bibir yang selalu tersenyum. Saat aku sadar di menoleh ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku ke arah jendela. Kenapa bisa aku tertangkap basah sedang memperhatikannya. Aku langsung pura-pura sedang tidur. Setidaknya agar dia tidak curiga.
 Seketika semua berubah menjadi hitam dan putih. Seperti layar televisi tahun 80-an. Aku berdiri di depan sebuah bangunan yang indah dan megah. Lalu, aku melihat seorang wanita berambut panjang kuncir kuda. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Banyak orang berlalu-lalang di depannya, tapi tidak mengubah fokusnya pada satu titik. Yaitu ponselnya.

Tak lama seorang laki-laki muda bertubuh ideal mendekati wanita itu. Tapi, wanita itu menangis. Entah apa yang diucapkan laki-laki itu, tapi sang wanita langsung berlari menjauh dari laki-laki tersebut. Tak jauh dari wanita itu ada sebuah motor melaju kencang. Aku ingin teriak, tapi suaraku tidak bisa keluar.

-Rawks-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar