06.30, Stasiun
Senen. Aku sangat merindukan suasana Stasiun Senen saat aku kembali dari Jogja.
Tapi pagi ini, aku akan berangkat ke Jogja untuk menyelesaikan masalah kuliahku
di sana. Keretaku di jadwalkan berangkat pukul 07.00 dan aku berharap keberangkatannya
tidak ditunda.
Aku segera
menaiki gerbong dan mencari tempat duduk yang sudah tertera di tiket keretaku.
Saat aku menemukan nomor kursi, ternyata sudah ada pemuda yang duduk disana.
Mungkin, dia berumur 25 atau 30 tahun. Pemuda itu sepertinya sedang asik
melihat ke arah jendela yaitu ke arah Stasiun. Entah apa yang membuatnya
tertarik.
Ketika aku sedang
bersusah payah menyimpan barang bawaanku di kabin, dia pun menoleh ke arahku
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pemuda itu. Aku terdiam sesaat ketika pemuda
itu menatapku lalu tersenyum. Aku seakan pernah melihat tatapan mata seperti
ini sebelumnya. Sudah tidak asing lagi tatapannya bagiku. Tapi kemudian aku
tersadar saat pemuda itu menepuk tangannya tepat di depan wajahku. “Eh, maaf
mas. Terima kasih, tapi saya bisa sendiri.” Jawabku. Pemuda itu lalu tersenyum
dan kembali menikmati pemandangan di luar jendela.
Aku pun duduk di
samping pemuda itu. Sebenarnya aku ingin duduk di dekat jendela. Karena nanti
akan banyak pemandangan indah sepanjang perjalanan menuju Jogja. “Maaf, boleh
saya duduk di dekat jendela?” Aku memberanikan diri untuk menukar posisi tempat
duduk. Pemuda itu hanya mengangguk lalu dia berdiri dan mempersilahkan aku
duduk di dekat jendela.
“Senang duduk di
dekat jendela ya?” tanya pemuda itu. “Ya, saya sangat suka duduk di sini.
Soalnya nanti banyak pemandangan indah. Siapa tau bisa jadi objek foto saya.”
Jawabku. Aku memang suka pemandangan, baik laut ataupun gunung. Jika ada
kesempatan dan aku sedang membawa kamera, aku pasti akan mengambil foto lalu
menyimpannya sebagai koleksi atau sebagai bukti kalau aku pernah kesana.
“Sepertinya, mba
sudah sering ke Jogja ya? Atau mungkin mba tinggal di Jogja dan lagi liburan di
Jakarta?” Tanya pemuda itu. Mba? Sepertinya wajahku tidak setua itu dan
sepertinya belum cocok untuk dipanggil mba. “Panggil aja Anita. Ya, saya sering
bolak balik Jakarta-Jogja. Saya kuliah di Jogja dan tinggal di Jakarta, bukan
sebaliknya.” Pemuda itu sepertinya tertarik dengan ceritaku. Dia sangat
memperhatikan setiap kata-kata yang aku ucapkan. Entah apa yang membuat
ucapanku menarik baginya. Pemuda itu mengulurkan tangannya untuk bersalaman
denganku. “Robi. Oh berarti saya salah kira.” Robi? Bagus juga nama pemuda itu.
Di luar sudah
terdengar pluit tanda kereta diizinkan untuk berangkat meninggalkan Stasiun
Senen. Tepat pukul 07.00 pagi kereta perlahan meninggalkan Stasiun Senen.
Kecepatan kerta pun bertambah kencang. Obrolanku dengan Robi pun berlanjut.
Mulai dari perkuliahan, fotografi, traveling, dan lama kelamaan pembicaraan
kami mengarah ke hal pribadi. Dan aku baru tau kalau dia ternyata hanya 2 tahun
lebih tua dariku, yaitu 24 tahun.
“Kalo kamu, mau
ke jogja ada urusan ya?” Lidahku gatal mengucapkan kata-kata itu. Tidak biasa
aku berbicara dengan lawan jenis menggunakan ‘aku’atau ‘kamu’. Tapi kalau
dilihat dari wajahnya, dia sepertinya orang yang tenang dan tidak seperti
laki-laki kebanyakan. “Ya, saya memang sedang ada urusan mendesak.” Seketika
wajahnya terlihat sedikit heran, “Kok kamu bisa tau?” Sudah kuduga kalau dia
akan bertanya.
Untuk orang yang
baru mengenalku, mungkin mereka akan heran kenapa bisa aku mengetahui apa yang
mereka pikirkan. Walaupun hanya melihat wajahnya. Tapi, kalau orang yang sudah
dekat, mereka akan paham kalau aku memang bisa merasakan sesuatu yang mungkin
sulit di jelaskan oleh kata-kata. Bukan karena aku mahasiswa psikologi atau
seorang cenayang. Tapi, itu sudah turun temurun ada di dalam darahku. Mungkin,
bisa dikatakan sebagai indra keenam.
“Keliatan dari
wajahnya.” Jawabku sambil tersenyum. Seolah tak ambil pusing, dia memalingkan
wajahnya. Aku pun kembali melihat keluar jendela. Setelah cukup lama aku
memperhatikan pemandangan, aku pun mengambil headset dari tas kecil yang aku pangku. Kepalaku mengangguk kecil
mendengarkan musik yang mengalun indah. Tiba-tiba mataku memperhatikan wajah
laki-laki yang ada di sebelahku ini. Dilihat dari samping, wajahnya tampan
juga. Pembawaannya yang tenang, dan bibir yang selalu tersenyum. Saat aku sadar
di menoleh ke arahku, aku langsung memalingkan wajahku ke arah jendela. Kenapa
bisa aku tertangkap basah sedang memperhatikannya. Aku langsung pura-pura
sedang tidur. Setidaknya agar dia tidak curiga.
Seketika semua berubah menjadi hitam dan
putih. Seperti layar televisi tahun 80-an. Aku berdiri di depan sebuah bangunan
yang indah dan megah. Lalu, aku melihat seorang wanita berambut panjang kuncir
kuda. Dia seperti sedang menunggu seseorang. Banyak orang berlalu-lalang di
depannya, tapi tidak mengubah fokusnya pada satu titik. Yaitu ponselnya.
Tak lama seorang
laki-laki muda bertubuh ideal mendekati wanita itu. Tapi, wanita itu menangis.
Entah apa yang diucapkan laki-laki itu, tapi sang wanita langsung berlari
menjauh dari laki-laki tersebut. Tak jauh dari wanita itu ada sebuah motor
melaju kencang. Aku ingin teriak, tapi suaraku tidak bisa keluar.
-Rawks-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar